Properti vs Konsumer vs Komoditas

Dari semua jenis saham, saya hanya “sedikit mengerti” dari 3 jenis saham ini, sedangkan saham lain seperti finance transportation dll masih sulit saya mengerti. Di Indonesia saham komoditas masihlah menjadi penggerak IHSG maklumlah indonesia negara dengan SDA tinggi, tapi dari ketiga jenis saham diatas komoditas-lah yang paling beresiko.

Urutan resiko:
  1. Komoditas
  2. Properti
  3. Konsumer
Tanpa mengurangi rasa nasionalisme, saya yakin hampir semua orang setuju indonesia adalah negara konsumtif. Sehingga dalam kondisi apapun, sektor yang paling tahan secara fundamental adalah konsumer. Sekarang ayo kita bahas ketiga jenis saham ini: 

1. Sektor Komoditas

ilustrasi foto by dream.co.id
Karena ulah spekulan komoditas, membuat komoditas adalah usaha yang paling beresiko, bahkan mungkin paling beresiko di dunia (kecuali bidang teknologi untuk kebutuhan tersier mungkin yang sangat beresiko jangka panjang). Perusahaan sektor komoditas sendiri sangat tergantung pada harga komoditas yang fluktuasinya seperti “roller-coaster”. Ini yang menjadikannya beresiko, hal ini juga membuat orang berspekulasi di komoditas. Sebaiknya anda mengerti BEP komoditas (misal: batubara BEP sekitar $60-$70 m3 ton, tergantung kalori juga). Jika anda berencana berinvestasi di saham komoditas berarti anda sendiri adalah seorang “semi-spekulan”. Tapi ada beberapa cara perusahaan ini menjadi sedikit berkurang resikonya. Setahu saya, berdasar analisis laporan keuangan yang juga oleh saya sendiri, ada beberapa cara mengurangi resiko:
  1. mendiversifikasi usaha tetapi masih dalam satu sektor (misal trading, pengolahan komoditas dll). Berarti pengoptimalan salah satu bagian industri, entah hilir atau lini tengah
  2. diversifikasi usaha yang tidak berhubungan dengan bisnis inti, tetapi ini membuat perusahaan tidak fokus.
  3. menggunakan leasing terutama operating lease, walaupun capital lease juga dapat mengurangi resiko.
  4. Sebisa mungkin berinvestasi pada perusahaan yang rasio hutang kecil kecuali pada sisi lease.
Saran saya yang lainnya adalah: sebaiknya anda tahu cycle komoditas, walaupun sedikit spekulasi, tapi toh tidak masalah untuk mengantisipasi. Komoditas biasanya yang paling pertama naik adalah komoditas primer terutama energy, kemudian bahan baku industri primer dan sekunder seperti tembaga, besi, baja dll. Kemudian diikuti bahan baku industri tersier (dibutuhkan pada mobil dll.) seperti nikel. Ini hanya hukum permintaan biasa, jika krisis orang hanya mengandalkan kebutuhan primer, jika makmur orang akan membeli kebutuhan tersier.

2. Properti

ilustrasi foto by www.stockdansaham.com

Sebagian besar artikel tentang properti terutama
real estate sudah saya jelaskan pada bagian sebelumnya, jadi saya tidak akan menjelaskannya lagi. Hanya beberapa penambahan. Properti terutama real estate termasuk sektor yang tahan krisis jika hutangnya rendah, tetapi harga pasar sahamnya mudah sekali anjlok jika terkena krisis. Ini dikarenakan aset perusahaan yang sebagian besar adalah tanah. Dalam sejarah indonesia krisis terbesar adalah krisis asia tahun 97, pada saat itu harga tanah turun 50%. Nah, dalam kondisi sekarang ini juga tidak adanya instrumen keuangan berbahaya berbasis tanah di Indonesia (ingat kasus subprime mortgage?), anggap saja resiko fundamental adalah harga tanah turun separuh (50%).

Itu adalah resiko fundamental, sedangkan resiko pasar berbeda, panik adalah musuh utama bearish, ketika krisis harga saham anjlok menjadi sekitar setengah sampai sepertiga dibawah fundamental saham yang sesungguhnya yang dikondisikan keuangan saat rontok (fundamental juga naik kan?). harga saham properti lebih parah karena fundamental juga turun separuhnya sehingga sahamnya ikut hancur hingga seperempat sampe seperenam dibanding sebelum krisis. Tapi tak masalah begitu krisis selesai harga properti termasuk cepat naik. Sebagai investor kita meresikokan risk usahanya yaitu 50% walaupun krisis, bukankah kita malah menambah investasi?
Kesimpulannya jika anda tidak terlalu beremosi ketika krisis properti adalah pilihan yang cukup bagus
Selain itu properti sangat lambat perputarannya. Sebaiknya anda membeli ketika perusahaan sedang mengembangkan landscape-nya karena ketika selesai, dan penjualan dimulai, kemnungkinan besar sahamnya sudah terbang sebelum turun kembali (kasus DILD? walaupun masih murah). Beberapa perusahaan properti seperti BSD sudah cukup stabil dalam usahanya, tetapi harganya sudah mendekati fundamental (memang biasanya perusahaan properti yang mapan harganya selalu berada disekitar fundamentalnya).

3. Konsumer

Dari semua sektor inilah sektor yang paling tahan banting, baik harga saham maupun dari fundamental. 
Saham konsumer adalah saham dari perusahaan yang menghasilkan produk-produk kebutuhan masyarakat, seperti makanan, minuman dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Jenis saham ini merupakan salah satu yang paling digemari masyarakat lantaran saham ini selalu bertumbuh.
saham-saham yang termasuk dalam sektor konsumsi dan perdagangan ritel akan cenderung mengalami trend positif saat menjelang bulan puasa dan lebaran. Data historis selama 10 tahun terakhir pun menjelaskan bahwa sektor ini selalu mendapatkan sentimen positif pada bulan ramadhan.

beberapa alasan saham disektor in selalu bertumbuh adalah karena:

  1. Permintaan produk konsumer selalu meningkat dari waktu ke waktu
  2. Konsumsi masyarakat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia
  3. Sektor konsumer ini memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi krisis ekonom
  4. Sektor konsumer ini dianggap yang paling menguntungkan ketimbang sektor lain.

Berikut daftar Perusahaan Industri manufaktur sektor industri barang konsumsi sektor makanan dan minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia (BEI):

Nah sekian ulasan kami mengenai ketiga kelompok saham ini, semoga bermanfaat. terima kasih

Penulis
Muhammad Sholich
dan Adi Wijaya

Belum ada Komentar untuk "Properti vs Konsumer vs Komoditas"

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, dan terima kasih telah berkunjung di blog saya

Facebook Comments APPID

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel